entahlah, aku merasa harus menulisnya. bukan, bukan harus, hanya ingin saja. aku tak tau akan menghasilkan tulisan yang seperti apa.
akhir dan awal yang menyedihkan. akhir dan awal tahun yang menyakitkan. mulai dari pembunuhan, musibah, dan bencana alam. sudah sehancur inikah manusia dan dunia? kasihan Bumi, dia hanya jadi bulan-bulanan manusia manusia serakah seperti kita. aku pikir, jika dia sanggup mengucap kata, Bumi tidak lagi dalam porsi marah. mungkin lebih tepatnya murka.
bayangkan aku, kamu, dan kalian semua menjadi Bumi. lalu rekonstruksi di alam sadarmu hal-hal yang sudah dilakukan manusia. jika memang lebih banyak manfaatnya, Demi Tuhan, seharusnya anak-anak kecil tanpa dosa itu lebih sering tertawa. kenapa yang terjadi malah sebaliknya? orang tua kehilangan anaknya, anak kehilangan orang tua, keluarga kehilangan tempat tinggal, dan masih banyak contoh menyedihkan yang bahkan aku, —mungkin kalian juga—, tak mampu mengingat.
apa yang sebenarnya kalian inginkan, wahai manusia? katanya, engkau adalah makhluk mulia. mengapa menghilangkan nyawa menjadi hal mudah layaknya membalik telapak tangan? ini tempat tinggalmu. tempat di mana kamu membesarkan anak-anakmu, melihat mereka tumbuh. tapi apa yang kita lakukan? bukannya saling memberi manfaat, kita malah saling menghancurkan. lalu apa yang akan kita wariskan untuk masa depan? kebencian?
aku marah, tapi aku tak mampu mengubahnya. aku tak memiliki kekuatan apa-apa. bahkan menolong diri sendiripun, aku kewalahan. aku tak tau harus melakukan apa agar kalian tak saling menghancurkan. apakah kalian mampu menahan jika Tuhan sudah 'turun tangan'?
Comments