Skip to main content

Are We Human?

entahlah, aku merasa harus menulisnya. bukan, bukan harus, hanya ingin saja. aku tak tau akan menghasilkan tulisan yang seperti apa.

akhir dan awal yang menyedihkan. akhir dan awal tahun yang menyakitkan. mulai dari pembunuhan, musibah, dan bencana alam. sudah sehancur inikah manusia dan dunia? kasihan Bumi, dia hanya jadi bulan-bulanan manusia manusia serakah seperti kita. aku pikir, jika dia sanggup mengucap kata, Bumi tidak lagi dalam porsi marah. mungkin lebih tepatnya murka.

bayangkan aku, kamu, dan kalian semua menjadi Bumi. lalu rekonstruksi di alam sadarmu hal-hal yang sudah dilakukan manusia. jika memang lebih banyak manfaatnya, Demi Tuhan, seharusnya anak-anak kecil tanpa dosa itu lebih sering tertawa. kenapa yang terjadi malah sebaliknya? orang tua kehilangan anaknya, anak kehilangan orang tua, keluarga kehilangan tempat tinggal, dan masih banyak contoh menyedihkan yang bahkan aku, —mungkin kalian juga—, tak mampu mengingat.

apa yang sebenarnya kalian inginkan, wahai manusia? katanya, engkau adalah makhluk mulia. mengapa menghilangkan nyawa menjadi hal mudah layaknya membalik telapak tangan? ini tempat tinggalmu. tempat di mana kamu membesarkan anak-anakmu, melihat mereka tumbuh. tapi apa yang kita lakukan? bukannya saling memberi manfaat, kita malah saling menghancurkan. lalu apa yang akan kita wariskan untuk masa depan? kebencian?

aku marah, tapi aku tak mampu mengubahnya. aku tak memiliki kekuatan apa-apa. bahkan menolong diri sendiripun, aku kewalahan. aku tak tau harus melakukan apa agar kalian tak saling menghancurkan. apakah kalian mampu menahan jika Tuhan sudah 'turun tangan'?

Comments

Popular posts from this blog

Manusia dan Peradaban Materialis

manusia-manusia yang hanya percaya pada apa yang dilihat oleh mata mereka, didengar oleh daun telinganya, diraba dengan sentuhan kulitnya, dicium oleh 2 lubang hidungnya, dan dikecap dengan permukaan lidahnya. mereka kehilangan hati untuk merasa, atau mungkin sudah tak punya. manusia-manusia yang hanya percaya kepada benda, dan tidak selainnya.

Indonesia: Sesat, Bid'ah, Haram wal Kafir

     Hari Jum'at kemarin, saya membuka media sosial buatan yahudi yang sudah lama tidak ditengok. Sependek pengetahuan saya yang amat minimalis ini, kata Jum'at biasanya diikuti dengan berkah. Itu juga saya tahu karena mengikuti akun mbah Mus. Kalau kalian juga mengikuti akun media sosial mbah Mus ( Ahmad Mustofa Bisri ), tentu familiar dengan postingan Beliau dengan tagar Jum'at Berkah.      Sayang seribu sayang, saat keluarga beliau masih dilingkupi kesedihan sepeninggal Bu Nyai Fatma awal bulan Juli lalu, sekonyong-konyong ada seseorang memposting—yang dia sebut draft—mengenai Dewan Revolusi Nasional yang diprakarsai mbah Mus. Sedikit banyak saya terpancing juga untuk berkomentar di kolom yang sudah tersedia. Tapi, mendadak saya urungkan. Mengingat ocehan dengan kepala dan hati panas, biasanya berbalik mental kepada yang melontarkan. Apalagi tanpa dilandasi ilmu tentang masalah yang diperbincangkan. Malah  mbingungi .      Lagipul...

Antara Che Guevara dan Zaskia Gotik

     Rasanya sayang kalo Minggu cerah ceria gini cuma dipake buat update status facebook , ya?        Kira-kira 2 atau 3 hari lalu—atau kemarin, saya lupa. Ada seseorang yang bercerita kepada saya. Bahwa ladangnya dikritik, dianggap keluar pakem, keluar jalur. Buah yang dihasilkan nanti berpotensi meracuni umat. Awalnya saya tak paham mengenai kritik perladangan ini. Lantas saya tanya beberapa hal, dan aha! sedikit clue bisa membuat pijakan kita jadi seimbang.      Saya ingin tahu, adakah dari sekian banyak makhluk penghuni Bumi yang tidak berjuang? Iblis dan setan yang kita laknat di setiap hembusan napas, saya rasa mereka juga berjuang. Bagaimana dan apa yang diperjuangkan, saya belum tahu. Mungkin lain waktu saya diberikan kesempatan mewawancarai Iblis ‘yang terlaknat’ untuk bisa mengorek sedikit informasi tentang perjuangannya.      Bagaimana dengan manusia? Adakah manusia yang tidak berjuang? Saya rasa tidak a...