Skip to main content

Manusia dan Peradaban Materialis

manusia-manusia yang hanya percaya pada apa yang dilihat oleh mata mereka, didengar oleh daun telinganya, diraba dengan sentuhan kulitnya, dicium oleh 2 lubang hidungnya, dan dikecap dengan permukaan lidahnya.

mereka kehilangan hati untuk merasa, atau mungkin sudah tak punya. manusia-manusia yang hanya percaya kepada benda, dan tidak selainnya.

Comments

Popular posts from this blog

Indonesia: Sesat, Bid'ah, Haram wal Kafir

     Hari Jum'at kemarin, saya membuka media sosial buatan yahudi yang sudah lama tidak ditengok. Sependek pengetahuan saya yang amat minimalis ini, kata Jum'at biasanya diikuti dengan berkah. Itu juga saya tahu karena mengikuti akun mbah Mus. Kalau kalian juga mengikuti akun media sosial mbah Mus ( Ahmad Mustofa Bisri ), tentu familiar dengan postingan Beliau dengan tagar Jum'at Berkah.      Sayang seribu sayang, saat keluarga beliau masih dilingkupi kesedihan sepeninggal Bu Nyai Fatma awal bulan Juli lalu, sekonyong-konyong ada seseorang memposting—yang dia sebut draft—mengenai Dewan Revolusi Nasional yang diprakarsai mbah Mus. Sedikit banyak saya terpancing juga untuk berkomentar di kolom yang sudah tersedia. Tapi, mendadak saya urungkan. Mengingat ocehan dengan kepala dan hati panas, biasanya berbalik mental kepada yang melontarkan. Apalagi tanpa dilandasi ilmu tentang masalah yang diperbincangkan. Malah  mbingungi .      Lagipul...

Are We Human?

entahlah, aku merasa harus menulisnya. bukan, bukan harus, hanya ingin saja. aku tak tau akan menghasilkan tulisan yang seperti apa. akhir dan awal yang menyedihkan. akhir dan awal tahun yang menyakitkan. mulai dari pembunuhan, musibah, dan bencana alam. sudah sehancur inikah manusia dan dunia? kasihan Bumi, dia hanya jadi bulan-bulanan manusia-manusia serakah seperti kita. aku pikir, jika dia sanggup mengucap kata, Bumi tidak lagi dalam porsi marah. mungkin lebih tepatnya murka. bayangkan aku, kamu, dan kalian semua menjadi Bumi. lalu rekonstruksi di alam sadarmu hal-hal yang sudah dilakukan manusia. jika memang lebih banyak manfaatnya, Demi Tuhan, seharusnya anak-anak kecil tanpa dosa itu lebih sering tertawa. kenapa yang terjadi malah sebaliknya? orang tua kehilangan anaknya, anak kehilangan orang tua, keluarga kehilangan tempat tinggal, dan masih banyak contoh menyedihkan yang bahkan aku—mungkin kalian juga—tak mampu mengingat. apa yang sebenarnya kalian inginkan, wahai manusia?...